Minggu, 13 Desember 2009

Telematika di negara muslim

Dalam dekade terakhir ini kita telah menyaksikan berbagai
perubahan yang luar biasa dan mendasar dalam bidang teknologi informasi
dan komunikasi yang kemudian ternyata menjadi kekuatan untuk suatu
lompatan besar dari masyarakat global.
Salah satu hasil dari kemajuan yang dramatis tersebut adalah
konvergensi antara telekomunikasi, media, dan informatika (telematika)
yang merupakan pengindonesiaan dari information, telecommunication, and
content (ITC). Revolusi telematika ini telah merubah tatanan ekonomi,
membuka cara-cara baru dalam berbisnis, dan bahkan mempengaruhi
perubahan sosial (Gates, 1999). Konvergensi yang mendorong kepada
lahirnya abad informasi.
Korelasi antara agama dan telematika sangat tinggi, sehingga rendahnya difusi telematika di negara-negara muslim disebabkan oleh rendahnya demokrasi di negara-negara tersebut. Padahal sebaliknya juga terlihat bahwa telematika adalah variabel fasilitator yang sangat kuat engaruhnya terhadap demokratisasi. Sedangkan korelasi antara jumlah umat Islam dengan penetrasi juga berkorelasi sangat rendah, namun tidak ada korelasi antara agama Isam dan penetrasi telematika. Meskipun ditemukan bahwa telematika memiliki dampak negatif dan dapat mengancam legitimasi pemerintah-pemerintah otoriter, namun telematika adalah juga sebuah kanal terbuka yang memungkinkan meningkatnya partusipasi rakyat dalam kebijakan-kebijakan publik sehingga pemahaman masyarakat terhadap hak-hak dan tanggung jawabnya dapat meningkat. Peningkatan ini akan secara langsung berdampak meningkatnya kualitas aset manusia karena meningkatnya kecerdasan dan kreatifitas yang pada akhirnya meningkatkan status ekonomi.
Transformasi peradaban di negara-negara Muslim tidak berjalan
seperti yang terjadi di negara-negara Barat. Negara-negara Muslim
umumnya menganggap diri mereka berada di dunia yang terpisah dan
berbeda, memiliki pandangan yang unik, dan filsafat hidup yang berbeda
dengan negara-negara non-Muslim (Huff, 2001). Munculnya Internet
misalnya telah menimbulkan berbagai pertanyaan dari mereka, yang tidak hanya bersifat religius, tetapi juga politis dan ekonomis. Internet dianggap
sebagai suatu resiko dan ancaman karena sifatnya yang terbuka, setara, dan
tidak mengenal batas-batas negara. Reaksi pemerintah negara-negara Muslim terhadap mengalirnya
arus informasi secara bebas melalui sarana telematika ini oleh Clement
Henry (1998) dinamakan sebagai “information shy”. Sumber
utama dari ketakutan ini adalah problem kekaburan antara domain publik
dan domain privat yang merupakan praktek umum pemerintahan negara-negara
Muslim.
Negara-negara Muslim sebagian besar adalah negara berkembang.
Di negara-negara berkembang, di mana korupsi, kolusi, dan nepotisme
(KKN) merupakan praktek yang banyak dilakukan oleh pejabat-pejabatnya,
maka telematika dapat membuat proses-proses administrasi
pemerintahannya lebih transparan (Talero, 1997). Kesimpulan ini didasarkan
atas kajian-kajian Katz dan Lieber (1985).

Penguasaan telematika akan menghasilkan ketersediaan suatu alat
yang sangat ampuh dalam penyebaran informasi di kalangan umat Islam.
Penetrasi telematika yang meluas di negara-negara Muslim akan
mengurangi legitimasi pemerintah negara-negara Muslim untuk bertindak
sewenang-wenang, otoriter, dan kuasi-berdaulat karena telematika akan
menjadi sarana di mana rakyat bisa berpartisipasi dalam kebijakan-kebijakan
publik serta menjadi sarana di mana masyarakat bisa belajar dan
memahami hak-hak dan tanggung jawab social dan politiknya.
Negara-negara Muslim sebagian besar adalah negara berkembang.
Di negara-negara berkembang, di mana korupsi, kolusi, dan nepotisme
(KKN) merupakan praktek yang banyak dilakukan oleh pejabat-pejabatnya,
maka telematika dapat membuat proses-proses administrasi
pemerintahannya lebih transparan (Talero, 1997). Kesimpulan ini didasarkan
atas kajian-kajian Katz dan Lieber (1985).
Korelasi antara agama dan telematika sangat tinggi, sehingga rendahnya difusi telematika di negara-negara muslim disebabkan oleh rendahnya demokrasi di negara-negara tersebut. Padahal sebaliknya juga terlihat bahwa telematika adalah variabel fasilitator yang sangat kuat engaruhnya terhadap demokratisasi. Sedangkan korelasi antara jumlah umat Islam dengan penetrasi juga berkorelasi sangat rendah, namun tidak ada korelasi antara agama Isam dan penetrasi telematika. Meskipun ditemukan bahwa telematika memiliki dampak negatif dan dapat mengancam legitimasi pemerintah-pemerintah otoriter, namun telematika adalah juga sebuah kanal terbuka yang memungkinkan meningkatnya partusipasi rakyat dalam kebijakan-kebijakan publik sehingga pemahaman masyarakat terhadap hak-hak dan tanggung jawabnya dapat meningkat. Peningkatan ini akan secara langsung berdampak meningkatnya kualitas aset manusia karena meningkatnya kecerdasan dan kreatifitas yang pada akhirnya meningkatkan status ekonomi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar