Minggu, 01 November 2009

tentang diksi

Tentang DIKSI.....



RENUNGKANLAH…

Bahasa terdiri atas bbrp tataran gramatikal antara lain kata, frase, klausa, dan kalimat.

Kata mrpkan tataran t’rendah & kalimat mrpkan tataran t’tinggi.

Ketika Anda menulis, kata mrpkan kunci utama m’bentuk tulisan.

Oki, sejumlah kata dlm BI harus dipahami dg baik, agar ide dan pesan seseorang dapat dimengerti.

Dengan demikian, kata2 yg digunakan u/ berkomunikasi harus dipahami dlm konteks kalimat, alinea dan wacana.

Kata sbg unsur bhs, tdk dpt dipergunakan dg sewenang-wenang. Akan tetapi, kata-kata tsb harus mengikuti kaidah-kaidah yg benar.

Menulis mrp keg yg mampu m’hasilkan ide2 dlm bentuk tulisan scr terus-menerus & teratur (produktif) serta mampu m’ungkapkan gambaran, maksud, gagasan, perasaan (ekspresif).

Oki, ketrampilan menulis / mengarang m’butuhkan grafologi, struktur bahasa, & kosa kata.

Salah satu unsur penting dlm mengarang adlh penguasaan kosa kata.

Kosa kata mrpkan bag dr diksi.

Ketepatan diksi dlm suatu karangan mrpkan hal yg tdk dpt diabaikan krn ketidaktepatan penggunaan diksi pasti akan menimbulkan ketidakjelasan makna.

DIKSI …

Diksi dpt diartikan sbg pilihan kata pengarang u/ m’gambarkan cerita mereka.

Diksi bukan hanya berarti pilih-memilih kata.

Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan/ m’ceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dsb.

Gaya bahasa sbg bagian dr diksi yg bertalian dg ungkapan2 individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yg tinggi.

Pilihan kata bukanlah masalah sederhana krn menyangkut persoalan yg bersifat dinamis, inovatif, & kreatif sejalan dg perkembangan masy penunturnya.

Penulis yang blm berpengalaman sangat sulit u/ m’ungkapkan ide / gagasan & biasanya sangat miskin variasi bahasa. Akan tetapi, ada pula penulis yg sangat boros / tdk efektif m’gunakan perbendaharaan kata, shg tdk ada isi yg terdpt di balik kata-katanya.

Kata2 atau istilah tdk hanya sekedar mengemban nilai2 indah (estetis), melainkan juga nilai2 filosofi dan pedagogis krn dpt digunakan penulis u/ menyimpan pesona makna yg terselubung / simbolis, shg u/ memahaminya diperlukan interpretasi & renungan2 yg dlm.


Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna.

Makna sebuah kata / sebuah kalimat mrpkan makna yg tdk sll berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60)

terbagi atas bbrp kelompok yaitu :

a. Makna Leksikal dan makna Gramatikal

b. Makna Referensial dan Nonreferensial

c. Makna Denotatif dan Konotatif

d. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

e. Makna Kata dan Makna Istilah

f. Makna Idiomatikal dan Peribahasa

g. Makna Kias dan Lugas

Relasi adlh hub makna yg menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi) dan sebagainya.

yang terbagi atas bbrp kelompok yaitu :

a. Kesamaan Makna (Sinonim)

b. Kebalikan Makna (Antonim)

c. Kegandaan Makna (Polisemi dan Ambiguitas)

d. Ketercakupan Makna (Hiponimi)

e. Kelebihan Makna (Redundansi)


Teknik penceritaan yg menarik lewat pilihan kata maka diksi yg baik harus

Tepat memilih kata u/ m’ungkapkan gagasan / hal yg ‘diamanatkan’

Diperlukan kemampuan u/ m’bedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dg gagasan yg ingin disampaikan & kemampuan u/ menemukan bentuk yg sesuai dg situasi & nilai rasa pembacanya.

Pilihan kata yg tepat & sesuai hanya mungkin kalau penulis/pengarang menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan kata) yg dimiliki masy bahasanya, serta mampu m’gerakkan & m’dayagunakan kekayaannya itu mjd jaring2 kalimat yg jelas & efektif.


CONTOH-CONTOH PENGGUNAAN DIKSI

Anda Pernah dengar Kalimat Sejuta Umat ?

”Kalimat Sejuta Umat” juga berarti suatu trademark yg dikeluarkan o/ suatu individu, yg pd akhirnya diikuti o/ individu atau kelompok lain.

”Kalimat Sejuta Umat” tidak sama dg kutipan / Quote, meski adakalanya sejenis.

”Kalimat Sejuta Umat” ada krn wabah / tren yg terjadi shg dalam segelintir kasus, penyebarnya seringkali anonymous.

Bahkan dpt dibilang bhw kata2 tsb. beredar dlm kelas sosial dg intensitas yg tinggi, bisa jadi krn tren semusim, yg besok2 mungkin sudah tersapu o/ waktu.

Susunan kata2pun spt itu pun ada yg bertolak menjadi sebuah mainstream.

Pemakaian….

Kadang kala diperuntukkan bagi kaum2 yg baru mengenal suatu pola kata unik. Biasanya digunakan sebagai kal penutup / kal pembuka bagi sebuah perbincangan. Bisa juga menjadi sisipan, atau mjd kal satir pelengkap suatu artikel.

”Kalimat Sejuta Umat” juga sering diterapkan dlm bbrp iklan, tentunya dengan berbagai modifikasi. Semisalnya saja judul film dari “Mengejar Mas - Mas” yg pd akhirnya pernah digubah mjd kal sejenis “Mengejar Emas - Emas” yg pernah diluncurkan sebuah bank.

Ya, bukan hanya Nokia 3315 saja yg pantas diberi gelar seperti itu, ttp Kyai/ustad, dsb.


Contoh lain…

Fakta yg ada di sekitar lingkungan kita adlh :

“Aku suka kamu !

Aku Cinta banget sama kamu !

Mau nggak kamu jadi pacar aku ?!

Soal aku jatuh hati banget sama kamu !”

Adlh kal yg sering dilontarkan o/ remaja2 yg sedang mabuk kepayang. Biasanya diucapkan di berbagai reality show sejenis, atau malah hanya ketika seorang Adam “menembak jatuh” seorang Hawa.

Ah, ada kalanya juga kombinasi kalimat ini disertai dg puisi atau 99 tangkai mawar.

Parahnya lagi, Pemerintah pun ikut2an latah:

Merokok dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan Kehamilan dan Janin

Ini adlh suatu kal yg tadinya diharapkan o/ pemerintah dpt menanggulangi keberadaan perokok. Akan tetapi krn nilai cukai yg ditawarkan produsen rokok mencapai 9 trilyun,

Kata - kata ini terkesan kurang optimal.

“Kita ? Elo aja kalee’, gua sih enggak!”

(trus dilanjutkan dg siul-siul)

Maknanya:

Jangan berharap bisa bergabung dg lawan bicara spt ini apalagi kalau dia sudah mengeluarkan statement di atas !

Mungkin si pembicara adlh sosok yg gensinya gedhe buanget.

Tambahan…(Nb.)

Dlm dunia Broadcasting: tdk ada seorangpun yg mampu dg jelas m’dengar sebuah kalimat yg terdiri lebih dr 20 kata

So, naskah siaran & berita yg kita buat harus seringkas & seramping - KISS (Keep It Short and Simple).

Sbl menulis kita memikirkan gagasan / ide secara utuh. Teknisnya, mulailah dg m’buat catatan ide, ketahui & pahami cerita dan peristiwanya, pikirkan, katakan dan tuliskan.

Pa saat memikirkan ide tulisan, kita dpt m’bayangkan spt akan bercerita kpd seseorang yg kita kenal yg sedang berada di hadapan kita. Sampaikanlah sesuatu yg akan kita ceritakan, & tuliskan persis seperti kita bercerita.

”Ringkaslah kalimat yg akan disampaikan, jgn boros kata2”

Misal:

Bukan: Menteri keuangan menyatakan akibat dr langkah tersebut ialah akan meningkatnya kondisi keuangan sektor swasta & memberikan peningkatan thd kepercayaan bisnis & masyarakat secara umum

Tetapi: Menteri keuangan mengatakan, langkah-langkah itu akan membantu keuangan sektor swasta

”Hindari pengulangan kata yg tdk perlu”

contoh: rencana yang akan datang, alasannya karena, ramai berbondong-bondong, maju ke depan, mundur ke belakang, peristiwa lalu yang telah dilewati dan sebagainya.

”Hindari p’gunaan anak kalimat. Bahasa radio adlh bhs tutur sehari2. Dlm berbicara, kita jarang m’gunakan anak kalimat. Jika menemukan anak kal, pecahlah mjd bbrp kal. Semakin sederhana struktur kal, akan semakin baik”.

Bukan: Rumania yg gaungnya mulai tenggelam sejak ditinggalkan Gheorge Hagi, siap mengalahkan tim manapun di Euro 2008 ini.

Tetapi: Sejak ditinggalkan Gheorge Hagi, gaung Rumania seperti tenggelam. Namun, Rumania tetap bertekad mengalahkan tim manapun di Euro 2008 ini.

“Hindari mendahulukan kata kerja”

Bukan: Menuntut presiden SBY membubarkan Ahmadiyah, demonstran dlm gelombang besar berunjuk rasa di depan Istana Negara.

Tetapi: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut pembubaran Ahmadiyah.

“Jgn menempatkan ‘kata kerja penting’ di akhir kal, krn pembaca berita biasanya menurunkan suaranya di akhir kal. Jika hal ini terjadi, makna kata kunci tadi akan hilang”.

Bukan: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut Ahmadiyah dibubarkan.

Tetapi: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut pembubaran Ahmadiyah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar